Sobat, bila kemarin aku mendapat sokongan puisi dari mas Sunarno Sahlan yang berjudul “Bahasa yang Kukenal“, alhamdulillah akhirnya dapat aku buat lagunya yang memang sesuai rencana bernuansa Nasyid.
Silakan simak lagu ini yang tetap masih berupa instrumentalia karena aku belum selesai membuat vocal mixer audio yang cocok untuk dipasang pada komputerku. Insya Allah bila aku telah selesai membuat mixernya aku tambahakan juga vocal agar sobat semua dapat mendengar lebih lengkap.
Puisi mas Narno tentunya akan disesuaikan dengan ritme musik yang aku buat ini agar tidak lepas dari makna yang terkandung didalamnya.
Yang mau dengar langsung klik 2 kali pada player dibawah ini:
Sekali lagi aku sampaikan terima kasih banyak kepada mas Narno yang berkenan sharing puisinya untuk dijadikan musikalisasi puisi. Semoga “pamer” kali ini dapat membawa semakin rekatnya silaturahmi.
Sobat tersayang pasti sudah mengenal foto siapa yang terpampang disamping ini. Ya beliau adalah Sang Trainer Eylekhan, pria hebat yang masih tetap menyimpan ketampanan walaupun sekarang sudah menginjak pada masa paruh baya. Senyumnya yang khas dan sosoknya yang hangat menyapa kita ketika berkunjung ke blognya. Kali ini aku mendapat souvenir indah dari om NH18.
Seperti pada tulisanku beberapa hari yang lalu yang menulis tentang puisi bernyanyi, aku menuliskan sebuah puisi cinta kemudian diberi nada dasar dengan memakai alat musik gitar akustik. Puisi dan lagu ini aku buat sebagai ungkapan rasa cintaku ketika aku jatuh cinta.
Lagu yang aku beri judul Salahkah Aku, bermodalkan kemampuan menulis yang belum bisa dikategorikan penulis puisi maupun pengarang lagu. Namun dengan modal itu aku beranikan diri untuk menawarkan kepada beliau (om NH) agar berkenan digubah sepenuhnya aransemen lagu tersebut.
Tak disangka gayung bersambut, siang tadi (minggu, 4 Juli 2010) aku menerima kiriman email yang berisi lagu hasil aransemen ulang dari om NH18. Lagu tersebut yang semula aku buat mellow, namun dengan sangat indahnya digubah menjadi irama syahdu namun penuh dengan romantisme dalam irama Bossanova (bossas) dan tetap pada nafas lagu cinta seperti aslinya.
Agar para sobat sekalian dapat mencoba mendengar lagu hasil gubahan om NH18, aku mencoba menggunakan fasilitas free image and songs server dari www.filefreak.com dan hasilnya dapat sobat dengarkan langsung maupun download.
Karena aku belum mempunyai mixer audio, maka lagu masih berupa instrumentalia sehingga sobat blm bisa mendengar syairnya. Untuk melihat syair lagu ini dapat dilihat pada artikel terkait dibawah ini.
Lagu berirama bossas yang telah digubah dengan manisnya, membuat aku tak mau berhenti mendengarkannya. Pada saat “tea time” tadi sore dan mungkin suatu saat aku mengadakan “candle light dinner“, aku akan setel sebagai musik pengantar dinner dengan orang yang aku cintai.
Bagi sobat yang ingin mendengarkan lagu instrumentalia ini silakan klik pada tombol play dibawah ini. (2 kali klik kalau tidak salah)
Tak terperi kebahagiaan hatiku mendapat hadiah istimewa dari om NH18, tak kalah dengan kebahagian yang didapat dari keluarga om NH18 yang beberapa waktu lalu dikarunia putra tercinta sebagai buah cinta perkawinan mbak Yuk dan mas Dit.
Melalui tulisan ini aku ucapkan TERIMA KASIH sebesar-besarnya kepada om NH18. Tak ada kata-kata lain yang dapat menggantikan ucapan terima kasih ini. And yes, you are the best trainer and musician. I love you, om NH.
Masih seperti 2 tulisan sebelum ini, sekilas tentang dunia musik rekaman dan pembuatan lagu. Seperti yang aku ceritakan kemarin adalah tentang penyair yang bernyanyi yaitu Ebiet G. Ade. Konon putra daerah dari sekitar kawasan Dieng yang terkenal juga dengan wisata alam Gunung Dieng (gunung Prahu) yang berlokasi di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah.
Karya Ebiet, diangkat dari puisi-puisi karyanya yang tentu sobat semua sudah pernah mendengar bahkan mungkin memiliki kenangan tersendiri dari lagu-lagu karyanya.
Sebenarnya banyak pula para penyair yang membawakan puisinya dengan bernyanyi, seperti yang aku pernah dengar yaitu WS. Rendra, Sawung Jabo,Harry Roesli dan NH Ainun Najib serta beberapa lagi penyair lainnya yang tak kutiliskan disini. Mereka cenderung mengatakan itu bukan lagu tapi puisi bernyanyi yang kemudian oleh para pakar disebut Musikalisasi Puisi.
Para sobat tentu ada yang suka dengan corat-coret membuat puisi, walaupun puisi-puisi itu hanya untuk diri sendiri maupun share dengan yang lain. Akupun disamping melakukan kegiatan lain, ikut pula corat coret tulisan yang tidak bisa aku sebut puisi tapi aku lebih suka menyebut dengan tulisan berangkai.
Aku tidak mahir bermain kata-kata dalam bentuk puisi. Kalaupun itu pernah aku buat semata pengganti curahan hati yang hanya orang-orang tertentu yang kuberikan. Seperti ketika pertama kali aku jatuh cinta pada saat masa remaja, hal itu tentu diantara sobatpun pernah mengalami sama sepertiku.
Nah, sobat. Bila diantara sobat punya puisi cobalah nyanyikan. Bila puisi itu boleh berbagi, aku akan mencoba berbagi mengisi nada-nada pada puisi sobat. Setuju?