Selama manusia masih membutuhkan makan, tentu peralatan masak atau lebih dikenal dengan sebutan peralatan dapur tentu menjadi kebutuhan utama dalam olah masakan, tak dibedakan antara yang kaya maupun yang miskin pasti butuh asupan makanan untuk menunjang kegiatan yang mereka lakukan.
Peralatan dapur yang ditawarkan oleh produsen sangat beragam dengan berbagai bentuk, fungsi dan variannya juga memiliki “fanatisme” tersendiri bagi penggunanya walaupun kadangkala pengguna banyak yang mengikuti “trend model” dan bahkan beberapa produsen menawarkan produk secara “pintar” dengan cara arisan.
Terlepas dari uraian diatas, aku pribadi yang bukan ahli masak atau yang sedang tenar saat ini disebut “chef” seperti layaknya mas Ata Septarius, Achoy Haris atau ibu-ibu yang rajin membuat masakan buat keluarganya seperti Imelda Cutrier, Adel Ilyas, Mamih Lily Suhana dan ka Monda Siregar. Namun kembali bila bicara urusan perut aku punya koleksi peralatan dapur khusus.
Dengan peralatan dapur yang sangat-sangat sederhana yang aku miliki hingga saat ini, tetapi berkat almarhumah ibuku yang juga “tukang masak” membuat aku terbiasa mengecap makanan sederhana namun memiliki nilai kesehatan dan cita rasa tinggi atau dapat disebut dengan istilah “lidah menak”.
Memasak tentu bagi mereka yang suka dapat dilakukan dengan mudah dan menghasilkan rasa masakan yang digemari minimalnya oleh diri sendiri maupun mereka yang ikut mencicipi hasil olahan masakan tersebut.
Sebenarnya tahukah anda bahwa alat masak yang tepat semakin membuat rasa masakan semakin “maknyus” (minjem istilah pakar) dilidah?
Alat memasak yang tepat tidak harus berharga mahal, seperti yang ada pada koleksi alat dapurku semuanya dibeli dengan harga yang sangat murah tetapi sayangnya “limited edition”. Jadi ketika peralatan tersebut ada yang rusak, sangat sulit untuk mendapatkan gantinya. Lihat gambar berikut adalah panci masak yang sudah sangat usang namun menjadi “andalan” bagiku untuk menyajikan masakan yang lezat.

panci usang yang buntung
Panci masak diatas entah kapan aku membelinya yang pasti sudah berumur lebih dari belasan tahun yang lalu. Walaupun dalam kondisi “buntung” seperti tampak pada gambar diatas, namun tetap aku pakai terutama untuk memasak mie rebus kesukaanku dan diakui oleh beberapa pencicip ditemukan berbeda rasanya ketika menggunakan panci lainnya.
Oleh karena lama-lama dirasakan kurang nyaman ketika dipakai dalam kondisi mengenaskan ini, maka dengan segenap akal aku pergunakan untuk mengganti “tangkai panci” yang telah rusak dengan tangkai kayu buatan sendiri dengan cara yang sangat mudah dan dalam tempo sesingkat-singkatnya walhasil penci buntungpun telah kembali memiliki tangkai kayu dengan mantap.
Caranya sebagai berikut:
1. Menyiapkan peralatan tukang kayu dan bahan kayu keras pengganti tangkai.

Alat dan bahan
2. Membentuk tangkai (gagang) panci sesuai ukuran dan kenyamanan ketika dipegang.

Bentuk tangkai pengganti
3. Mencocokan ukuran tangkai yang sudah dibuat.

fitting (mencocokkan) tangkai ke panci
4. Setelah selesai, cuci sampai bersih peralatan dapur yang telah selesia diperbaiki untuk dipakai keperluan memasak nikmat dan nyaman.
5. Selamat mencoba peralatan dapur yang telah diperbaiki dan menghasilkan masakan lezat nikmat dan disukai semua pencicipnya.