Jaman semakin maju berkat temuan-temuan baru dalam bidang teknologi. Teknologi menyentuh hampir semua aspek kehidupan dan kebutuhan manusia dan memang tujuan utama teknologi adalah membantu manusia untuk berkarya.
Bila bicara fotografi, umum sudah banyak yang tahu apa dan bagaimana produk teknologi ini dipergunakan. Sejak ditemukannya lensa dan celluloid, kebutuhan dokumentasi semakin meningkat.
Teknologi fotografi menjawab semua tantangan, dalam era serba digital menjadi sangat memudahkan. Cukup dengan arahkan dan “jepret”..!! jadi dengan seketika.

Membidik dengan mata kiri
Disadari atau tidak, ternyata camera foto sejak pertama dibuat hingga kini. Dari produk abal-abal hingga produk yang paling dahsyat penempatan tombol shutter ada pada sebelah kanan body camera.
Posisi shutter disebelah kanan ini berlaku untuk semua orang, baik mereka yang umum (“right handed”) maupun yang kidal (“left handed”). Sedangkan posisi pengintai (“view finder”) cenderung kesebelah kiri.
Berbeda pada penggunaan microscope single ocular. Pengguna umum (right handed) pada laboratorium “ditekankan” cara penggunaan mata kiri untuk melihat obyek dalam “preparat” dan mata kanan untuk mengontrol tangan kanan menggambar obyek diatas kertas.
Sebaliknya bagi pengguna kidal, mata kanan untuk melihat obyek dan mata kiri untuk mengontrol tangan “kirinya” yang sedang menggambar. Perkembangan microscope mengalami kemajuan pesat juga hingga kini banyak dijual type digital.
Pada camera digital non SLR (single lens reflex), obyek yang akan difoto bisa dilihat langsung pada display atau melalui view finder. Umumnya pengguna camera tipe ini akan melihat langsung pada display walaupun beresiko boros batery.
Gambar diatas adalah contoh penggunaan view finder yang tepat yaitu dengan mata kiri. Kedua mata tetap terbuka, beberapa orang memiliki kebiasaan membidik dengan mata memicing sebelah.
Menggunakan mata kiri disamping tidak akan membuat pemotret kelelahan karena “memicing” sebelah mata. Mata kanan dengan sendirinya terhalang oleh body camera dan tangan kanan pada posisi shutter. Praktis dan tidak gampang membuat lelah.
Pada penggunaan DSLR, biarkan telapak tangan kiri menyangga body camera, ibu jari, telunjuk dan jari tengah berfungsi untuk memutar ring focus dan zoom pada lensa.
Cara menggunakan camera seperti diatas sangat terasa bila akan membuat foto seri, foto mikro dan sesi pemotretan model yang tidak statis.

Fotografer in Action
Penghobi fotografi cenderung akan membeli dan menggunakan produk camera digital SLR (DSLR). Karena disamping gambarnya akan lebih tajam juga sangat irit catu daya batery. Sangat menjengkelkan bila batery cepet habis sedang obyek masih menantang.
Perbandingan camera SLR dengan camera poket yang non SLR adalah hasil akhir sebuah foto. Poket camera walaupun memiliki kapasitas 12 megapixel (MP)hasilnya tetap kalah dengan camera SLR yang hanya memiliki 6 MP. Jauh sekali perbedaan ini karena perbedaan kompleksitas lensa pada masing-masing camera.
Pada digital poket camera, lensa lebih sedikit dan memiliki kepekaan lensa yang lebih rendah juga. Sedangkan camera SLR, disamping lensa dapat diganti-ganti, juga memiliki lebar bidang tangkapan sumber cahaya lebih luas.
Nah, setelah membaca artikel ini. Bagaimana gaya anda menggunakan camera foto.?
NB.: foto diatas adalah salah satu tokoh fotografi dari Bandung. Dipesan langsung dari Bundo, Mamaw Dinda dan Fitri Kedua. (“F” major family)
Artikel yang ada kaitannya di:
http://vyanrh.wordpress.com/2009/11/17/nikon-d40-camera-dslr-yang/
ntuh foto Om Fatra ya Kang???
Blum punya uang buat beli kamera
itu om Fatra ya?
saya baru bisa make pocket camera, maLah kadang cuma kamera HP, yang penting bisa mengabadikan suatu momen…
Dijamin, akang gak bakal nemuin foto nDa yg lg pegang Kamera….
Subhanallah,
Papat tau ngga ya, fotonya nangkring disini? semoga..
Bundo ngga komen ttg fotografi ya..
hanya mau bilang bahwa Fatra adalah seorang dosen, seorang sahabat yang sangat dicintai.
Alfatihah buat Fatra yaa,
Barakallah..
bunda kirimkan al-fatihah juga utk Fatra.
bunda gak punya kamera ……..hiks,hiks…..jadi gak bisa bergaya
salam
pastinya itu foto mas fatra, saya kalo pegang kamera ya di pegang aja vyan, wakakakaka, jadi tertarik deh buat postingan gaya kameramen…
besok akhh, tak kumpulin dulu foto-foto di laptop, kayanya ada beberapa gaya kameramen, mau buat tandingan vyan… *ngebetttt*
pastinya bukan saya yang pegang kamera
ndak tandingan kamera, saya kan ndak mampu beli kamera, hp aja ndak bisa foto-foto
cuma mau buat tandingan posting, dengan tema sama, gaya ngejeret ala fotograper yang kurang kerjaan
Kang, Dik Ram ngapsen aja ya,
Bingung mau kasih komen apa
Saya sudah diwakili anak sulung saya Mas.
Untuk urusan fotografi saya kalah jauh dengan anak saya.
Lihat alat2nya saja saya pusing.
Saya jadi penonton saja.
vyan, b uat blur fotonya masih kurang rapi dikittt aja, masih keliatan yang ga keblur, pake path kali lebih gampang selectionnya
atau color selection
atau masking juga bisa
wah, kalau saya gak mudeng teori2 kayak begini, mas.. yang penting hasilnya bagus ajalah, uda sukur..
kameranya Papat keren sangat tuh…
siapa yg mewarisi ya?
Iming2 lagi …. Tapi ulasannya menarik

Proposal camera saya gak disetujui Leys bilang takut ketagihan …
Tapi dari pada lupa caranya entar … saya ijin artikel yang menarik ini saya print soalnya gak nemu cara ini di beberapa majalah saya
Trims kang
vyannnn pagi
alexaku udah 367 ribu.. vyan juga dah 465 ribu kerenna akhhh akhirnya cepet ya, tumben
baru liat fotona alm.om fatra..
ternyata beliau suka sama foto9raphi kereen!
gaya pas moto Vyan?
yah terantung obyek yan9 dibidik,bisa lurus,belok,mirin9,tidur,pokoe tergantung obyek yang diambil
aku belum punya kamera yang kaya om fatra,masih camdy biasa..
**awas ajah kalu gak ikutan gelaran kontes fiksi mini yang diadain tukang kayu ama tukang becak!! **
vyaan harus ikut! sapa bilan9 gak bisa ? vyaan bisa koookkk!
dihantosaaan..
Jujur saja …
Pada akhirnya … semua akan bermuara pada …
The Eyes behind the Camera …
Dan untuk mewujudkan gambar yang bagus memang diperlukan sarana yang baik …
DSLR salah satu diantaranya …
BTW …
saya kok jadi sedih melihat ilustrasi foto diatas ya ?
Thanks Pyan …
Salam saya
kamera saya gak ada incengannya…. besok kalau dah beli SLR saya kabarin lagi…
sekarang juga kunanti kunjunganmu di rumahku vyan, karena threesome mu sudah mampir di kamarku tadi malam
*maksa banget sih*
bukunya da sampe
ada namamu juga disana ternyata
saya dulu pernah belajar fotografi ampai mencetaknya.sekarang sudah lupa. jadi motret secara amatiran saja krn ada kamera digital dan main2 dengan photo impact.
Mantap artikelnya. Saya kira itu foto Guskar je he he he
salam hangat dari BlogCamp
Hehe, saya masih menggunakan kamera hape.
Dari dulu saya pengen kamera SLR, dan masih menabung.
Malah kadang-kadang tukang potonya lebih bergaya daripada modelnya..hehe:D
Pingback: Mengintip Gaya dan Pose mu / Dream
wah mantaph nih postingannya, moga2 bisa dijadikan sebagai modal menang di eksklusifimaginaction.com, lumayan gratis jalan2 ke Jepang hehehe
Pingback: 3 hari yang berat menggarap “Inang Project” | Vyan RH Blog
Pingback: Wanted: Nikon D3100 DSLR new (tapi murah) « LJ.returns
Pingback: Belajar mengenal kamera SLR (bagian ke 1) | Vyan RH Blog
Pingback: Belajar mengenal kamera SLR (bagian ke 2) | Vyan RH Blog