Bahasa dan Budaya sangat berkaitan erat.

Budaya adalah kebiasaan seseorang yang kemudian “menular” dan dipergunakan oleh komunitas yang lebih besar,  ”Vyan RH, 2013″.

Masih berkaitan dengan artikel sebelum ini tentang tidak perlu adanya pelajaran bahasa Inggris di TK dan SD karena sangat tidak efisien dan tidak dapat diaplikasikan secara nyata serta lebih banyak “mubazir”nya daripada manfaat yang dapat diperoleh bagi peserta didik pada tingkatan tersebut.

Seperti dijelaskan pada artikel kemarin bahwa bahasa sangat berkaitan erat dengan budaya. Tidak serta merta dengan menghafalkan beberapa kosa kata kemudian dapat disebut cakap berbahasa, sementara berbahasa sendiri memiliki cabang yaitu bahasa lisan dan bahasa tulisan.

Ketika bahasa digunakan secara lisan dipengaruhi oleh dialek (logat, aksen) oleh yang berbicara dimana dialek tersebut adalah bagian dari budaya yang lazim digunakan oleh orang tersebut sehingga bila lawan bicara tidak (kurang) mengenal dialek pembicara maka sering terjadi terdengar asing yang kemungkinannya dapat salah arti pula.

Tidak perlu jauh-jauh mengenal dialek dari bahasa negara lain, di negeri kita sendiri terdapat beragam dialek meskipun masih tetap menggunakan bahasa Indonesia yang digunakan untuk berkomunikasi padahal hanya dibatasi oleh sebuah sungai atau desa lain apalagi yang diseberang pulau.

Sedangkan penggunaan bahasa secara tulisanpun sangat jelas sekali pengaruh budaya seseorang walaupun bahasa tulisan juga menggunakan bahasa Indonesia. Sering kita jumpai pengaruh tersebut pada artikel-artikel yang ditulis di beberapa blog yaitu pada kata “Ibu” ditulis dengan “Ibuk”, kata “Coba” ditulis dengan “Cobak” dan banyak lagi contoh yang lainnya.

Umum mengetahui bahwa yang disebut “budaya” adalah yang berkaitan dengan “Seni, Pakaian, Makanan dan Perhelatan”. Padahal budaya tidaklah sesempit itu pada kenyataannya. Terlebih yang akhir-akhir ini semakin marak terjadi di negeri tercinta adalah tentang demikian banyaknya pelaku “korupsi”.

Demikianlah kurang lebihnya tentang kaitan budaya dan bahasa, semoga dapat dimengerti uraiannya.

Pelajaran Bahasa Inggris untuk TK dan SD sangat tidak efisien

Entah darimana para petinggi pendidikan di negeri kita memiliki landasan berpikir ketika menerapkan kurikulum pelajaran bahasa Inggris bagi murid-murid tingkat Sekolah Taman Kanak-kanak (TK) dan Sekolah Dasar (SD). Kesan pemaksaan terhadap penggunaan bahasa ini apabila diterapkan pada pendidikan tingak dasar ini.

Penggunaan bahasa berikut rangkaian tata caranya telah sangat diketahui bahwa sangat berkaitan erat dengan budaya pengguna bahasa tersebut. Bukan saja bahasa asing, tetapi bahasa Indonesiapun bila dipelajari tentu harus bahkan wajib dipelajari bagaimana budaya Indonesia karena disinilah letak keunikan suatu ilmu bahasa.

Mengapa bahasa sangat erat kaitannya dengan budaya? Sesungguhnya tidaklah sulit untuk mengetahui hal ini karena pengguna bahasa tersebutlah yang membuat mengisi “warna” dari tatacara berbahasa. Sebagai contoh adalah perbedaan penggunaan kata “Anda” dan “Kamu” dalam bahasa Indonesia yang tidak dimiliki oleh bahasa Inggris.

Budaya membentuk aturan atau tata krama berbahasa, tidak cukup hanya menghafalkan kosa kata lalu dianggap telah “mumpuni’ dan benar dalam penggunaan bahasa baik secara lisan maupun tulisan.

Lebih kacaunya kurikulum pendidikan tentang ilmu bahasa di negeri kita terutama tentang Bahasa Daerah, karena beragamnya bahasa daerah di nusantara tercinta ini tetapi hanya di sebagian Pulau Jawa saja yang memiliki buku pendidikan bahasa daerah. Itupun dengan pemberian jam yang sangat sedikit serta tidak (kurang) disertai pemahaman aturan budaya berbahasa.

Memang tidak semua orang dinegeri kita mau belajar bahasa dari daerah lain apalagi budayanya, karena yang terjadi dinegeri ini betapa “hebatnya” ketika seseorang disebutkan menguasai lebih dari satu bahasa dari negara lain. Tetapi ketika seseorang faham (menguasai) lebih dari 2 (dua) bahasa daerah dari negeri sendiri orang tersebut tidak serta merta menjadi panutan bagi orang lain.

Kembali pada topik pelajaran bahasa Inggris di sekolah TK dan SD, alangkah naifnya bila terus dilakukan pemberian pelajaran yang tentunya menjadi beban bukan saja bagi anak didik tetapi juga bagi guru sebagai pelaksana pendidikan itu sendiri. Tetapi akan lebih efisien ketika pelajaran bahasa Inggris dilakukan oleh lembaga pendidikan diluar sekolah (PLS) atau tempat-tempat kursus bahasa.

Sejauh mana efisiensi pemberian pelajaran bahasa Inggris bagi murid TK dan SD? Tentu jawabnya akan beragam tergantung cara berpikir orang tersebut.  Tetapi apabila orang tersebut tahu akan eratnya kaitan berbahasa dengan budaya tentu akan berpikir 1000 kali karena ketidak-sinkronnya pengetahuan bahasa dan budaya dari pelaksana pendidikan tersebut.

Kiranya akan lebih baik dan akan semakin efisien bila pelajaran bahasa Inggris di TK dan SD dihapuskan dan jam tersebut dipakai untuk lebih mendalami budaya bangsa terutama tentang Etika, Tata Krama dalam berbahasa yang digunakan oleh para murid tersebut disesuaikan dengan lingkungan setempat.

Catatan: Akibat kurangnya pendidikan budaya luhur bangsa, etika dan tata krama di negeri kita semakin menipis dan akhirnya hilang.

Keasyikan menggambar dengan pensil

Kegiatan apapun ketika dilakukan dengan senang membawa dampak “narkose” bagi pelakunya (Vyan RH, 2013), seperti yang sekarang aku terus geluti membawa kesan tersendiri disamping beberapa aktivitasku yang lain. Keasyikan menggambar dengan pensil yang semakin hari semakin merangsang minatku hingga hampir tiada hari tanpa menggambar.

Seperti yg pernah aku ceritakan bila hobi menggambar telah aku lakukan saat duduk di kelas 5 SD namun ketika masuk era pubertas masa SMP terganti dengan hobi lainnya, akhirnya kembali mencuat mengobrak-abrik rasa lagi sejak tahun 2009 silam.

Umum terjadi ketika menggeluti sesuatu selalu saja menemui rasa senang dan sedih. Rasa senang muncul ketika berhasil melewati kendala yang ada dan rasa sedih ketika menemui kendala yang biasanya akibat kurang dukungan dari orang-orang terdekat. Rasa sedih menenggelamkan rasa senang yang dengan susah payah diraih.

Agaknya sudah menjadi resiko menjalani kegiatan bagi bukan “selebritis” (orang-orang terkenal), walaupun telah dengan bersusah payah menekuninya bahkan menghabiskan waktu yang sangat lama tetapi kurang mendapat dukungan. Berbeda dengan para selebritis, apapun yang mereka lakukan selalu didukung oleh para penggemarnya.

Bukannya aku ingin jadi selebritis atau dianggap selebritis, tetapi adalah hal yang wajar ketika menginginkan dukungan orang-orang terdekat tentu membawa semangat untuk lebih giat lagi berupaya tetapi apabila tidak ada dukungan tentu akan membuat hati sedih bahkan terluka.

Kendati mengalami pasang surut emosi, aku bersyukur karena dari semua kegiatan maupun hobi yang aku lakukan tidak begitu saja pudar tetapi semakin membangkitkan semangat untuk lebih giat lagi berkarya dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat serta membuat bangga minimalnya untuk diri sendiri.

Dan akhirnya tersu berupaya untuk semangat karena aku mendapat keasyikan ketia menggambar dengan pensil seperti beberapa karyaku yang telah aku publish disini. Tetap Semangaaattttt…!!!!! :D